JUNGLE CHILD: RINDUKU PADA RIMBA PAPUA

Kisah Perempuan Asing di Rimba Papua

Sabina

Sabina

Oleh : Hugo Warami *)

“JUNGLE CHILD” yang ditulis oleh seorang anak penginjil, yakni Sabine Kuegler  yang diterbitkan oleh Penerbit Esensi-Erlangga Group dengan Internasional Serial Book Number:  978-979-015-225-0, dan dicetak pertama kali dalam edisi bahasa Indonesia tahun 2008, dengan tebal halaman sebanyak VIII + 384. Buku ini merupakan salah satu dedikasi dari seorang anak penginjil dalam membangun rimba Papua dengan credo-credo Injil yang tak pernah terucap sepatah-kata. Buku ini adalah kisah memukau yang dialami sendiri oleh Sabine Kaugler ketika hidup bersama dalam sebuah kehidupan primitif suku Fayu selama 15 (lima belas) tahun di Pedalaman Mamberamo bersama orang tuannya yang bekerja sebagai guru dan penginjil.

Kisah yang tertuang dalam buku ini merupakan kisah nyata yang dialami oleh sebuah keluarga berkebangsaan Jerman yang rela berkorban,berjuang mengangkat harkat dan martabat suku Fayu ke permukaan bumi Papua. Penulis buku ini mengatakan bahwa: Kehidupan di hutan telah membekas dalam diri kami, dan kami merasa amat diberkati oleh Tuhan karena kami telah mendapatkan hidup yang begitu unik dan indah. Kami sangat berutang budi kepada suku Fayu yang telah membagi hidup kami dan mau menerima kami sebagai bagian dari sukunya, walaupun dalam kenyataanya kami berbeda warna kulit dan budaya. Mereka pantas mendapatkan penghargaan yang setinggi-tingginya”.

Buku ini menggambarkan bahwa kehidupan tidaksekedar hidup, dan hanya sekedar ada. Mencari nafkah, memenuhi segala kewajiban dan lain-lainnya tetap saja membuat kehidupan tidak sekedar numpang lewat. Hanya ada satu nurani yang membaram yakni kerinduan akan kampung halaman karena itulah SORGA YANG HILANG.

Bagian pertama tentang Suku Fayu – Lembah yang hilang memuat tentang kisah perjalalan sebuah keluarga berkebangsaan Jerman, perjumpaan pertama dengan hutan rimba Papua dan pemukiman kecil yang dinamai Danau Bira. Penghuni Danau Bira adalah para linguisr (ahli bahasa), antropolog, penerbang, misionaris dan staf pengajar lainnya yang berasal dari berbagai negara. Dan bagi mereka Danau Bira adalah SORGA. Potret mereka berkulit gelap dengan rambut keriting dan telanjang bulat. Bulu burung Elang menutupi sebagian kepala, tulang yang panjang dan tipis menembus jaringan lembut pangkal hidup mereka. Tiap lelaki membawa busur dan anak panah ditangan serta memegang kapak. Itulah potrert suku Fayu.

Bagian kedua tentang kehidupan, aktivitas dan tantangan bertahan di tengah suku Fayu-Mamberamo yang memuat unsur-unsur alam yang amat penting di antara teman dan sahabat suku Fayu. Matahari yang menembus pepohonan, sungai yang megalir begitu riang, dan tanah yang sejuk menakjubkan di bawah jemari-jemari kaki. Hutan seakan hidup seperti manusia. Hujan yang hangat selalu menjadi teman bermain, angin yang sejuk adalah sahabat. Matahari terbenam di sore hari seakan mewarnai langit seperti pertunjukan kembang api yang agung: merah, kuning, biru, unggu, dan serangkaian warna yang tak terlukiskan di atas fatamorgana. Sepatu, jaket, dan jas hujan tidak diperlukan.Alam bukan untuk dihindari, tetapi untuk dinikmati.

Bagian ketiga tentang Panggilan Jiwa untuk melayani suku Fayu-Mamberamo yang memuat kerja sama lintas lembaga dengan Yayasan Persekutuan Penginjilan Masirei (YPPM). Yayasan ini sebagai organisasi bantuan pengembangan lokal. Panggilan jiwa ini seakan membawa Danau Bira untuk selalu dekat di hati para penginjil. Pandangan dari bukit selalu menjadi sumber kegembiraaan dan keajaiban karena dapat memberikan kesan bahwa seakan-akan hidup berada di puncak dunia. Pelajaran hidup di hutan selalu membawa pada pola hidup sederhana. Hidup tidak ditentukan oleh harta benda, tetapi lebih kepada cara memaknai warna kehidupan. Kebahagiaan datang dari ketentraman hati, dan bukan material.

Dari hutan rimba Papua, pelajaran yang paling berharga adalah bahwa rumah tidaklah mestinya sebuah negara, negara bagian, kota, atau sesuatu budaya. Rumah adalah tempat dimana hati ini berada, dan dikelilingi oleh orang-orang yang dicintai dan mencintainya. Akhirnya suku Fayu telah menjadi suku yang penuh kedamaian. Suku yang unik dan istimewa. Mereka layak berbangga pada tradisi yang dimilikinya. Ashego ’Terima Kasih (bhs Fayu)’

*) Staf Peneliti Pusat Penelitian Bahasa dan Budaya Papua (Pusbadaya) – Unipa Manokwari

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: