Indahnya Matahari Terbit dalam Koreografi Jecko Siompo

Oleh Maya Handhini

Jakarta – Papua, pulau paling timur Indonesia inilah yang menjadi inspirasi bagi Jecko Kurniawan Siompo Pui, untuk menciptakan karya-karya kontemporer di masyarakat urban.

Di Papua, menurut Jecko Siompo, ada lima keajaiban yang tak dimiliki pulau di mana pun di Indonesia. Salju abadi di Puncak Jayawijaya, pintu emas dunia, aneka flora dan fauna yang langka, ribuan bahasa dan suku yang beragam, serta pulau yang timbul dan tenggelam.

“Dengan banyaknya kekayaan tradisi dari tanah kelahiran yaitu Papua, saya ingin melakukan hal yang terbaik dalam karya seni saya ini. Dan inilah karya terbaru yang ditampilkan di Art Summit 2007 yaitu ‘Matahari itu Terbit di Papua’. Kalau saja kita tahu, betapa indahnya Papua di kala matahari itu terbit, keindahan ini tidak pernah bisa saya lupakan,” ujarnya saat belum pentas.

Melalui karya terbarunya inilah, Jecko ingin mengajak para penonton dapat merasakan betapa indahnya pulau yang terletak paling timur itu melalui gerakan-gerakan yang muncul berawal dari tingkah laku hewan yang ada di kota dengan alam yang indah. Keindahan tersebut juga didukung oleh masyarakat Papua yang sangat sederhana.

Dengan hanya disinari satu lampu, lima penari yang semuanya perempuan berdiri berjejer, menundukkan kepala. Kelimanya mengenakan pakaian berwarna cokelat dengan tas anyaman khas Papua bertengger di kepalanya. Seorang pria penari hanya mengenakan celana berwarna merah dan bertelanjang dada.

Pada koreografi khas Jecko, tubuh menjadi bagian penting dalam penampilan para penarinya ini. Mereka menari hanya diiringi suara-suara yang keluar dari mulut serta entakan kakinya. Semua itu menjadi bagian yang paling disenangi oleh sang koreografer. Jecko ingin menampilkan bagaimana masyarakat Papua yang sangat sederhana, namun tidak lepas dari empasan tradisi yang abstrak.

Gerakan Binatang

Melalui gerakan-gerakan binatang, berburu dan pola bertahan hidup dari bukit ke bukit menjadi tolok ukur dalam membentuk desain gerakan. Dalam durasi tidak lebih dari 30 menit itu, para penari hanya bergerak kejang dan disko yang mencerminkan masyarakat Papua yang memang sangat senang dengan tarian.

Menurut Jecko, suara burung, suara ombak, suara hening di malam hari mengisi setiap langkah penari yang bergerak di panggung dengan mengandalkan olah tubuh ke kanan dan ke kiri. Namun, tarian yang dihasilkan begitu enak dinikmati. Tak ada celetukan-celetukan penari yang kerap mengundang tawa penonton. Dengan tarian terbarunya, Jecko ingin memperlihatkan keseriusannya mengenai betapa indahnya matahari terbit di Papua.

Melalui tingkah laku hewan, yang membuat bentuk-bentuk gerak yang lahir pada karya ini juga tercipta dari sebuah kebiasaan masyarakat Papua yang hidup rukun bertetangga dan memiliki jiwa saling menolong. Melalui gerakan tubuh, para penari tersebut menjadikan simbol kebersamaan dalam bermasyarakat.

Sebelum penampilan karya terbarunya ini, pria kelahiran Papua ini terlebih dahulu menyuguhkan dua karyanya yang pernah ditampilkan sebelumnya yaitu “Tikus-tikus” dan “In front of Papua”. Dalam penampilan “Tikus-tikus” ini, sang koreografer bersama dengan Ajeng Soelaiman. “Tikus-tikus” dalam dialek Papua adalah tubuh itu keram atau kejang-kejang. Bersama dengan pasangannya, Jecko mampu berinteraksi dengan penonton yang malam itu terlihat memenuhi gedung pertunjukan di Teater Kecil Taman Ismial Marzuki (TIM), Senin (26/11) malam.

“In front of Papua”, yang ditampilkan Jecko di pentas Teater The National Museum of Singapore pada 2 November lalu, menggambarkan masyarakat Papua itu sangat cinta akan kedamaian dan keindahan alamnya. n

 

Sumber: Sinar Harapan

Posted in TARIAN. 1 Comment »

One Response to “Indahnya Matahari Terbit dalam Koreografi Jecko Siompo”

  1. Ida Bagus K. Sudiasa Says:

    Saya merasa bangga melihat dan mendengar aktifitas kesnian yang tak surut oleh waktu. Ia terus bergerak bagaikan air mengalir tanpa batas. Berita yang dihadirkan oleh media sangat akuratif, namun sayang untuk menguatkan berita tersebut sangat perlu menghadirkan sisi lain dalam pertunjukan tersebut, yang sangat mungkin dengan photo.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: