Menjadikan Tradisi Sebagai Pegangan

by : Dwi Fitria

 

Banyak seniman abai akan tradisi. Tak demikian Jecko Siompo, penari kontemporer Indonesia yang banyak menggali kekayaan tari tanah kelahirannya, Papua. Kepada Jurnal Nasional ia membagi pandangan mengenai profesi koreografer, dunia tari, kesungguhan mengeksplorasi tradisi, dan juga rahasia membuat koreografi yang dapat dinikmati semua kalangan.

Apakah arti menjadi seorang koregrafer bagi Anda?

Saya mungkin tak bisa memberikan definisi seorang koreografer yang canggih, tapi bagi saya sendiri, menjadi seorang koreografer adalah sesuatu yang bisa memberikan rasa senang. Ketika saya menjadi seorang koregrafer, saya jadi tahu lebih banyak tentang budaya. Saya jadi memahami sekaligus bangga menjadi seorang pelaku budaya. Saya juga menjadi sadar dan senang mengetahui berbagai macam sejarah di dunia ini. Saya kembali mengenal jati diri saya sebagai seorang Indonesia. Keseluruhan hal tersebut, membuat saya bangga menjadi seorang koreografer.

 

Saya pikir, menjadi seorang koreografer amat banyak persamaannya dengan seorang sejarawan atau budayawan. Dengan menjadi seorang koregrafer sebenarnya ada banyak hal yang dapat saya angkat dalam karya saya. Sekaligus juga mendorong saya untuk belajar lebih banyak.

 

Menurut Anda apakah koreografi Indonesia sudah dapat berbicara di dunia Internasional?

Amat Sangat. Artinya begini, kalau kita mau bicara dunia tari di dunia, kita harus jujur pada semua orang di dunia, sekalipun dia pakar di Amerika misalnya Martha Graham, atau Isadora Duncan. Atau Pina Bausch dan Susanna Linke di Jerman. Atau Arco Renz di Belgia, Chandra Leka di India, atau di Indonesia ada Sardono W. Kusumo. Kalau kita mau jujur, kalau kita hendak membicarakan tari, banyak sekali gerakan tari yang bisa digali di Indonesia, menurut saya Indonesia adalah semacam gudangnya tari.

 

Lihatlah dari Sabang hingga Merauke, semua orang menari, ribuan tradisi. Di satu daerah saja, Misalnya Aceh Lamno, itu sudah ratusan cara mereka menari. Belum lagi kalau kita pergi ke wilayah lain di Aceh, belum lagi kalau kita ke Medan, turun turun, turun terus ke Papua. Satu pulau Papua saja saya menemukan 262 suku dengan 232 bahasa yang berbeda-beda. Dan betul-betul bahasa itu sesuai dengan tariannya, sehingga kalau dihitung-hitung paling tidak ada 200-an sekian jenis tarian di papua sendiri

 

Setelah melihat semuanya itu, saya berpikir yang pantas untuk membicarakan tari di dunia adalah Indonesia. Bangga sekali rasanya sebagai orang Indonesia.

 

Apakah Idealisme Anda dalam membuat suatu karya?

Kalau saya yang ideal adalah yang menggabungkan antara yang modern dengan yang tradisional. Artinya saya terinspirasi oleh tradisi tetapi dalam penggarapannya tetaplah harus modern. Misalnya dalam karya In Front of Papua Itu adalah sebuah karya tari yang diambil dari gerakan-gerakan tradisional, namun pengemasannya sudah modern. Jadi akhirnya karya itu karya saya, bukan karya orang Papua. Yang saya ambil hanya filosofinya saja. Dan saya melakukan ini karena kecintaan saya terhadap akar tradisi saya.

 

Meski kerap membuat tari kontemporer, Anda adalah juga seorang koreografer yang cukup laris dalam industri tari yang lebih ngepop. Sebut saja dalam Let‘s Dance misalnya. Apakah ini memengaruhi Idealisme Anda dalam berkarya?

Saya pikir buat saya sama sekali tidak ada yang mengganjal. Pada saat ini dalam industri tersebut, posisi saya hanyalah sebagai seorang judge. Seorang juri. Jadi saya sama sekali tidak merasa terganggu. Saya sih senang-senang saja dibayar. Dan tak ada keharusan saya harus mengeluarkan ide-ide saya dalam acara itu. Kalau kebetulan ada ide ya saya keluarkan saja dalam acara itu, tapi jika tidak ya tidak ya santai saja.

 

Acara tari semacam Let‘s Dance memang agak terpengaruh gaya tari Barat, tetapi setidaknya acara ini punya dampak positif menyalurkan energi para remaja ke hal yang positif, alih-alih ke hal-hal negatif seperti narkoba misalnya.

 

Apakah anda memberlakukan sekat yang jelas bagi diri Anda sendiri, jika berhubungan dengan industri, saya seperti ini, jika berhubungan dengan idealisme, maka saya akan seperti ini?

Tidak juga. Saya pikir idealisme sebaiknya tidak salah kaprah, saya di Let‘s Dance pun adalah idealisme saya juga. Artinya idealisme sesungguhnya bukan sesuatu yang berat, bukan sesuatu yang harus dipandang dengan terlalu serius. Artinya ketika saya berpartisipasi dalam lets dance bukan berarti saya kehilangan idealisme saya. Menurut saya bukan tak mungkin menggabungkan apa yang kita suka dengan idealisme. Itu menurut saya ya. Ketika saya bikin Let‘s Dance itu wujud idealisme saya, begitupun ketika saya membuat karya kontemporer, itu juga bentuk lain dari idealisme saya.

 

Tidak ada tabrakan atau benturan sama sekali?

Tidak ada sama sekali, saya pikir yah jalan saja. Dan saya pikir pop pun adalah sebuah idealisme, kalau dia tidak idealis dengan itu maka ia tidak akan mungkin menjadi sesuatu. Michael Jackson idealis dengan pop-nya dia, cuma di dunia Barat kontemporer sudah menjadi dunia idealis mereka. Ya akhirnya berkembang dan menjadi amat hebat. Sehebat-hebatnya. Kalau buat aku hip hop juga bagian dari idealismeku.

 

Ibaratnya saya sudah punya dua dunia. Dunia kontemporer saya lebih ke tradisi Papua dan spontanitas lain begitu, sementara untuk menyalurkan hobi saya pergi ke Let’s Dance. Jadi let‘s dance itu semacam hobi tetapi hobi yang serius. Karena ketika kita sedang melakukan penjurian, itu jadi serius, jadi mikir, mau gak mau jadi gak hobi, jadi hobi yang serius.

 

Karya-karya Anda nyaris seluruhnya mengeksplorasi Papua. Ada yang mengatakan bahwa karena inilah yang dianggap bagus maka Anda tidak keluar dari pola ini. Dalam artian Anda tidak mengeksplorasi yang lain. Bagaimana menurut Anda?

Menurut saya semua tereksplorasi dalam karya-karya tari saya. Hanya medianya saja yang lewat Papua. Saya bisa bicara tentang banyak hal misalnya Jakarta, Bengkulu atau Jambi. Tapi tetap saja sudut pandangnya diproyeksikan melalui Papua.

 

Berarti anda tidak pernah melepaskan diri dari unsur ini?

Ini saya kembalikan lagi pada kata-kata saya sebelumnya, sebenarnya jika saya ingin melepaskan diri dari Papua amatlah mudah bagi saya. Akan sangat gampang, ketika saya buat teknik saya sendiri, teknik primitivism katakanlah, atau teknik orang di hutan.

 

Gampang saja saya mengubah pola geraknya. Dari gerakan-gerakan menghentak ala Papua, menjadi gerakan tanpa tekanan terlalu besar. Saya masuk ke Papua saya malah punya beban, gerakannya harus dilakukan dengan energi yang cukup besar. Saya harus mengurung bahu saya, leher saya harus bergerak dengan teknik tertentu, begitu pula cara jalannya. Itu malah lebih berat, ketika saya ingin keluar malah lebih ringan, bahu saya lepas.

 

Dulu saya mencoba itu tapi itu belum terekspos, artinya masih dalam tahap masa-masa saya baru belajar. Misalnya ada ujian-ujian di kampus, atau ada studi banding. Itu karya saya yang betul-betul bukan Papua, benar-benar karya-karya saya yang eksperimental.

 

Anda sudah punya penggemar sendiri, juga sudah punya nama di dunia tari, tidakkah ini malah memudahkan Anda jika ingin bereksperimen?

Saya punya impian untuk melakukan itu. Kalau ada sponsor dan kesempatan untuk menampilkan itu, maka saya akan menampilkan karya-karya lama saya itu. Digabungkan dengan karya baru. Cuma yang saya pikir adalah, kenapa saya harus selalu menampilkan Papua, karena saya pikir ketika saya menampilkan Papua maka saya punya identitas. Jika saya lepas dari situ, semua orang akan sama di dunia ini.

 

Bukan karena takut kehilangan penggemar?

Tidak juga, malah ada beberapa orang yang mengenal aku, itu justru bukan Papua, tidak ada Papua sama sekali. Cuma ketika saya banyak mempelajari tahap demi tahap segala sesuatu seolah senantiasa berbalik ke tradisional.

 

Menurut saya yang akan bertahan justru yang tradisi, karena orang biasanya akan cenderung kembali ke sini. Kalau yang modern akan lekang dimakan waktu, sementara tradisi akan terus ada. Modern akan terus berganti sama seperti zaman, sampai kita di modern kita dapat kehilangan arah, sementara jika kita memegang tradisi, kita tetap punya pegangan.

 

Menurut anda sendiri, mengapa orang bisa tertarik menyaksikan karya anda? Apa sih yang bikin orang terus menerus ingin menyaksikan karya Mas Jecko.

Saya tidak punya trik khusus, tapi saya cuma berpikir bahwa penonton adalah segala- galanya. Apa yang saya bikin saya pikir penonton lebih tahu dari saya. Saya percaya penonton lebih pintar dari saya. Saat saya membuat sebuah gerakan, penonton lebih mengerti dari saya. Saat berkarya saya cenderung membuang ego. Saya berpikir banyak tentang penonton. Saat membuat karya yang saya pikirkan adalah penonton, bahkan cenderung lebih memikirkan pendonton daripada karya itu.

 

Saya amat takut kalau penonton sampai boring, itu penyakit saya. Saya takut sekali. Saya selalu berpikir saat membuat sebuah karya jangan sampai boring jangan sampai boring. Karenanya saya selalu berpikir panjang. Karya akan saya lihat dulu, kalau boring tak akan saya tampilkan.

 

Boring bagaimana maksudnya?

Secara visual, secara keseluruhan pokoknya, saya tidak mau karya saya menghukum penonton. Karena buat saya penonton adalah segala-galanya.

 

Menurut anda banyak tari kontemporer yang seperti ini?

Tari kontemporer seharusnya bukan tarian yang membuat penonton jenuh, bukan karya yang menghukum penonton, jangan sampai tari kontemporer membuat murka penonton. Jika karyanya seperti itu, sebaiknya tidak menyebutnya sebagai karya kontemporer.

 

Oleh karena itu dalam membuat karya-karya kontemporer, saya selalu mempertimbangkan penonton. Saya berharap bagaimanapun tipe penonton ia akan bisa menerima karya saya. Entah dia orang awam, orang bego, orang pintar, pengamat. Saya berharap karya saya dapat dinikmati banyak kalangan.

 

Tidakkah mencoba menyenangkan begitu banyak orang akan mempersulit proses karya?

Maksudnya bukan dipikirkan, tapi menurut saya itulah resiko sebagai seorang koreografer. Koreografer harus berangkat dengan kesadaran seperti itu, ia tidak boleh egois dengan apa yang ia lakukan. Ia berkewajiban untuk memberikan sesuatu kepada orang yang menontonnya.

Saya kadang-kadang sampai berpikir. Okelah kalau penonton tidak suka, tapi saya berharap penonton bisa berpikir dengan itu. Atau ia tidak usah berpikir tapi ia suka karyanya. Senang dan kemudian pulang, itu tidak apa-apa.

 

Tapi ada salah satu guru di Jerman mengatakan, kalau pertunjukan saya, ketika penonton pulang dengan bingung, maka karya itu sukses, dan saya sukses sebagai koreografer. Cuma, itu bisa menjadi salah kaprah di kita. Makanya penonton kita pulang boring, suntuk. Saya tidak mau yang seperti itu. Saya tidak membuat karya yang membingungkan penonton.

 

Sebagai koreografer, apa yang anda lakukan agar karya-karya Anda terus berkembang?

Kalau buat saya, ada dua prinsip dalam berkarya, sejarah dan perkembangan. Sudah. Mungkin orang kalau berkarya ketika ia melihat dua sisi itu maka akan lebih aman buat dia. Misalnya dia mau melakukan ini, ada gak sejarahnya?

 

Maksudnya gerakan ini sudah pernah ada belum sih? Gerakan ini sudah pernah dilakukan ke depan gak? Jadi katakanlah posisi saya sedikit aman. Jadi tidak terlalu bertaruh, paling tidak tahu kalau orang pasti menikmatinya.

 

Sedikit play save?

Sebetulnya bukan karena harus mencari aman. Tapi berkarya itu saya pikir harus menyenangkan pemirsa. Sekalipun itu, kayak ada yang kemaren bilang sama aku. Orang-orang kos kamu itu gak ada tragedi ya? Gak ada yang menderita ya? Semuanya senang aja.

 

Apa karena dengan formula “Papua” anda berhasil menyenangkan penonton anda tidak mencoba formula yang lain?

Sebenarnya saya orang yang paling berani, saya berani membuat apa aja, artinya saya tidak tahu tapi seperti ada feeling, saya mau bikin apa aja, saya kadang-kadang suka percaya. Penonton tahu yang seperti ini, jadi saya kembali lagi, saya aman. Saya percaya, ketika penonton suka, karya itu jadi bagus. Saya selalu berpikir tetap penonton yang nomor 1. Ketika duduk, apa yang harus mereka lihat, itu yang mengganggu psikologi saya.

 

Efek-efek gerakan saya bagaimana psikologinya untuk masing-masing penonton, itu yang terus menghantui, tapi mudah-mudahan semuanya sudah mengkristal, menjadi kristal di diri saya. Jadi saya tidak perlu lagi berpikir ulang, semua sudah menjadi kristal. Mudah-mudahan dia mengkristal, jadi saya tidak perlu memikirkan penonton lagi. Harapan saya sih seperti itu.

 

Jadi tidak akan keluar dari frame ini ya?

Karena ini yang disukai penonton, itulah yang saya buat.

 

Sumber: Jurnal Nasional

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: