Sepaket Tarian dari Papua

Putu Fajar Arcana

Sudah seharusnya Jecko Siompo mendapat satu tempat dalam perhelatan Art Summit 2007. Koreografer ini tidak saja cukup produktif, tetapi lebih penting dari itu, ia membawa ragam baru dalam ranah tari kontemporer Indonesia. Jecko seolah membebaskan kita dari “kungkungan” landasan estetik tradisi Jawa, Sumatera, dan Bali yang selama ini begitu dominan menguasai jagat tari kontemporer Indonesia. Lelaki berdarah Papua itu hadir “menyuling” tradisi lokal dan menghasilkan “zat” bernama tari kontemporer yang dinamik, renyah, dan enak disimak.

Tiga tarinya yang dipentaskan pada 26-27 November 2007 di Teater Studio Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, sebagaimana karya-karya Jecko selama ini, berangkat dari dasar-dasar gerak yang hidup dalam tubuh orang Papua. Ungkapan “dalam tubuh” itu sengaja dipakai untuk menegaskan pengertian tarian bukanlah dihasilkan dari mekanisme kerja otak, melainkan lebih merupakan memori yang diwariskan lewat gerak tubuh. Secara kebetulan kesan itu tampak sangat dekat dengan mekanisme pewarisan yang terjadi pada masyarakat Papua di mana pengalaman empiris menjadi medium pembelajaran utama.

Tiga koreografi Jecko yang dipentaskan malam itu, In Front of Papua (1998), Tikus-tikus (2002), dan Matahari Itu Terbit di Papua (2007), sepenuhnya merujuk pada kekayaan sekaligus kesederhanaan gerak tubuh orang Papua. Dan sepaket tarian ini membuktikan bahwa kosa gerak dari Papua menjadi kutub lain dari pencarian tari Indonesia kontemporer.

Jecko mengingatkan saya pada patung-patung primitif Papua. Coba perhatikan sikap jari dan tangan mereka. Jika pada tarian Jawa, Sumatera, dan Bali telapak tangan dan jari selalu mengembang membentuk variasi simbol-simbol dengan kekentalan spiritualitas tertentu, pada tarian Papua telapak tangan selalu ditekuk ke tengah serupa patung-patung primitif dari Asmat.

Selain ditekuk, tangan para penari selalu mendekap dada dengan tubuh setengah terbungkuk. Itulah pelajaran pertama yang mereka tangkap dari getaran alam sekitar tempat hidupnya. Barangkali sikap itu lebih menyerupai perilaku binatang seperti kanguru yang memang hidup di pulau paling timur Indonesia itu.

Jecko seolah hadir sebagai wild east yang tak banyak dipengaruhi ragam gerak yang selama ini ia pelajari di Indonesia bagian lain. Perlu diketahui, koreografer ini sebelumnya pernah bekerja sama dengan Deddy Luthan yang mewakili ragam gerak Sumatera dan Kalimantan, Boi G Sakti yang juga mewakili Sumatera, dan Sardono W Kusumo yang sudah jelas berangkat dari ranah tradisi Jawa. Bahkan dia pernah bergabung bersama Farida Oetoyo yang boleh dikata belakangan merepresentasikan gerak balet dari Barat.

Orisinalitas
Pada In Front of Papua yang dikerjakan Jecko tahun 1998, kekentalan rasa Papua tak bisa dihindari. Apalagi memang pada karya ini Jecko melibatkan lima lelaki asal Papua lengkap dengan coretan-coretan pada tubuh. Itu semakin menegaskan karya ini dekat sekali hubungannya dengan wild east tadi.

Sentuhan Jecko Siompo sebagai koreografer yang belajar secara akademis di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) pada karya ini hanya tampak dengan melakukan presisi pada komposisi. Ia membiarkan kosa gerak “asli” yang melekat pada tubuh orang Papua menonjol pada setiap bagian. Perhatikan gerak kaki, goyangan pinggul, gestur, dan teriakan melengking yang sesaat, sungguh jelas mengadopsi kesederhanaan dan kekhasan Papua.
Tikus-tikus (2002), bahasa lokal untuk menyebut kejang-kejang, adalah paket transisi yang mencoba mencari benang merah antara tarian jalanan seperti break dance yang pernah dipelajari Jecko dengan “keliaran” untuk tidak mengatakan primitif, ragam gerak yang dia warisi dari tanah Papua. Hasilnya, pertunjukan yang sama sekali tidak bisa dirunut dalam perjalanan tari kontemporer Indonesia. Jecko bagi saya telah “menemukan” bahasa baru yang orisinal.

Apa yang ia pelajari selama ini, baik di IKJ maupun ketika bergabung dengan para koreografer lain, tidak membuatnya luluh mengikuti gaya para gurunya. Bahkan pada karya terbarunya, Matahari Itu Terbit di Papua (2007), Jecko memperlihatkan Papua tak hanya gerak yang mengandalkan kekuatan fisik semata. Karya ini tampak lebih sublim kendati secara ornamental masih memperlihatkan benda kultural, seperti noken yang dikenakan lima penari perempuan.

“Keagungan menjadi kebanggaan dalam setiap bunyi yang lahir dari patung dan motif tradisi di daerah paling timur bangsaku,” kata Jecko. Mungkin ungkapan yang terlalu bombastis jika dibandingkan dengan spiritualitas yang ia capai pada karya ini. Kadang memang suka begitu. Koreografer tak percaya pada apa yang sudah ia capai, tetapi justru terjebak pada ungkapan verbal yang membubarkan “rasa indah” yang terbangun pada penikmatnya.

Apa pun itu, Jecko telah hadir menjadi kutub baru dalam khazanah tari kontemporer Indonesia. Jika ia konsisten berkarya dan sedikit bekerja keras menjajal dan memperdalam pewacanaan dalam dunia tari, niscaya koreografer berusia 32 tahun ini akan hadir menjadi maestro dari Papua beberapa tahun ke depan. Dan kehadirannya tidak bisa kita tolak dengan cara apa pun….

Sumber:

Kompas

Posted in TARIAN. 1 Comment »

One Response to “Sepaket Tarian dari Papua”

  1. CAROLYN FATIMAH Says:

    keren…………………..

    artikel nya lanjutin lagi

    sob……………..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: