Membunuh Bahasa, Membunuh Sejarah Peradaban Masyarakat Pemiliknya

Penulis: Hugo Warami

Pentingnya Bahasa

Andaikan dunia ini sudah sama dengan keinginan manusia, referensi itu tidak akan pernah ada. Tapi, sayangnya dunia tidak pernah sama dengan keinginan manusia. Mengapa dunia tidak menyerupai keinginan manusia? Karena dari diri manusia sendiri, dunia itu tak mempunyai makna. Sebagai manusia, tak dapat menanggung sesuatu yang tanpa makna. Bahkan menyelidiki sesuatu yang tanpa makna pun sudah merupakan upaya untuk memberi makna. Bahasa tak lain dan tak bukan hadir untuk menanggapi dunia yang tanpa makna, dan menjadi sesuatu yang menyerupai kehendak manusia. Dengan bahasa manusia memberi jawaban atas sesuatu yang dianggap kurang atau tidak menyerupainya.

Untuk menjalankan tugas kemanusiaan itu, manusia hanya punya satu alat, yakni bahasa. Dengan bahasa, manusia dapat mengungkapkan apa yang ingin diungkapkan. Sesuatu yang sudah dirassakan sama dan serupa dengan dengannya, belum tentu terasa sebagai serupa, karena belum terungkap dan diungkapkan. Hanya dengan bahasa, manusia dapat membuatnya terasa nyata dan terungkap.

Kebanyakan manusia lupa akan misteri dan kekuatan bahasa. Mereka lebih percaya pada pengetahuan dan pengalamannya. Padahal semua itu masih mentah dan belum nyata, bila tidak dinyatakan dengan bahasa. Jadi, jangan pernah mengira bahwa bahasa itu mudah. Sebelum menyatakan dengan bahasa, manusia harus menggulati pengetahuannya dengan bahasa. Sering terjadi, dalam pergulatannya itu kalah. Manusia merasa tahu dan mengerti, merasa mengalami dan sadar, tapi semuanya itu tidak dapat di ungkapan, artinya bahwa bahasa tak membantunya untuk menyatakan semua keinginannya. Akhirnya, semuanya tinggal sebagai kegelapan dan kebawahsadaran, padahal pikiran manusia merasa tenang dan sadar tentang pengetahuan tersebut. Untuk itu, bahasalah sebagai sarana pencerahan bagi kegelapan manusia.

Di antara semua bentuk simbol, bahasa merupakan simbol yang paling rumit, halus dan berkembang. Kini manusia telah sepakat bersama, dalam kesalingbergantungannya selama berabad-abad, untuk menjadikan berbagai suara yang mereka ciptakan dengan paru-paru, tenggorokan, lidah, gigi, dan bibir, secara sistematis mewakili peristiwa-peristiwa dalam sistem-sistem saraf mereka, sehingga bahasa disebut sebagai sistem kesepakatan-kesepakatan.

Sebagai sistem kognisi, bahasa dengan sistem gramatikal, bunyi serta tata tulisnya itu, dipahami sebagai sumber daya dan kekayaan mental yang setelah dipelajari, ada dalam diri manusia dan masyarakat. Sistem bahasa (langue) yang abstrak itu merupakan permilikan (property) bersama dan ada dalam kesadaran kolektif masyarakat tutur. Permilikan itu digunakan secara nyata dalam bentuk tuturan dan tulisan (parole) dalam wujudnya sangat bervariasi, baik variasi bentuk maupun nuansa makna dalam konteks penuturan.

Secara ontologis hakikat keberadaan bahasa tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia. Hakikat makna bahasa dan keberadaan bahasa senantiasa memproyeksikan kehidupan manusia yang sifatnya tidak terbatas dan kompleks. Dalam konteks proyeksi kehidupan manusia, bahasa senantiasa digunakan secara khas dan memiliki suatu aturan permainan tersendiri. Untuk itu, terdapat banyak permainan bahasa dalam kehidupan manusia, bahkan dapat dikatakan tidak terbatas, dan nantara tata permainan satu dengan lainnya tidak dapat dintentukan dengan suatu aturan yang bersifat umum. Namun demikian, walaupun terdapat perbedaan adakalanya terdapat sutau kemiripan, dan hal ini sulit ditentukan secara secara definitif dan pasti. Meskipun orang tidak mengetahui secara persis sebuah permainan bahasa tertentu, namun ia mengetahui apa yang harus diperbuat dalam suatu permainan. Oleh karena itu, untuk mengungkapkan hakikat bahasa dalam kehidupan manusia dapat dilaksanakan dengan melakukan suatu deskripsi serta memberikan contoh-contoh dalam kehidupan manusia yang digunakan secera berbeda.

Sebagian orang berpendapat bahwa bahasa sebagai sesuatu yang kita lakukan untuk orang lain; sebuah permainan dari simbol verbal yang didasarkan dengan rasa indera kita (pencitraan). Sebagai sistem mediasi, bahasa tidak hanya menggambarkan cara pandang manusia tentang dunia dan konsepsinya, tetapi juga membentuk visi tentang realitas.

Pandangan di atas, merajut pada pemikiran bahwa dengan melukiskan bahasa sebagai penjelmaan pikiran dan perasaan, yaitu budi manusia, maka bahasa itu mendapat arti jauh lebih tinggi daripada sistem bunyi atau fonem. Oleh karena itu budilah yang melahirkan kebudayaan, maka bahasa sebagai penjelmaan daripada budi itu adalah cerminan selengkap-lengkapnya dan sesempurna dari kebudayaan.

Perhatian terhadap kelompok-kelompok minoritas ini sekarang telah menjadi betapa penting dengan adanya kontak antarbudaya, namun diasumsikan bahwa komunikasi antabudaya itu sangat sulit. Hal ini disebabkan karena jika bahasa sebagai sistem bunyi gagal mengendap dalam kantong-kantong budaya, maka masyarakat pun gagal untuk memahami dan dipahami dalam konteks komunikasi antarbudaya.

Bahasa Menuju Identitas yang Beradab

Masyarakat lokal yang beragam telah lama memiliki identitas yang jelas dengan bingkai sentimen primordial (agama, etnis, bahasa dan lain-lain). Bahasa sebagai identitas atau jati diri telah membangun nilai-nilai, norma, dan simbol-simbol ekspresif menjadi ikatan sosial untuk membangun solidaritas dan kohesivitas sosial. Bagi masyarakat lokal, identitas adalah “harga diri” dan “senjata” untuk menghadapi kekuatan luar lewat simbol-simbol bahasa dan budaya. Nilai, norma dan simbol-simbol ekspresif yang terkandung dalam identitas lokal memberikan justifikasi bagi tindakan-tindakan di masa lalu, menjelaskan tindakan masa sekarang dan pedoman untuk menyeleksi pilihan-pilihan masa depan.

Tetapi identitas lokal termasuk didalamnya bahasa telah lama hancur atau musnah karena intervensi negara lewat pendekatan reseptif dan formasi negara yang hirarkis-sentralistik. Negara membangun integrasi lewat penghancuran identitas lokal dan penghisapan sumber daya lokal. Hasilnya adalah kemanan, stabilitas, ketertiban dan integritas yang tidak otentik. Ketika identitas lokal hancur, masyarakat lokal yang menjadi terdakwa dalam proses ini. Mestinya yang menjadi terdakwa dalam proses ini adalah Pemerintah pusat dan elit nasional yang sekaligus sebagai dalangnya. Elit lokal juga menjadi terdakwa atas gagalnya membangun identitas lokal yang beradab. Elit lokal selama ini mempolitisir sentimen etnisitas dan isu-isu putra daerah, akibatnya bahasa daerah (lokal) tereliminasi hingga ke proses genosida.

Perang Bahasa

Menurut Gerard Bibang, seorang pemerhati bahasa asal Belanda mengatakan bahwa bahasa tak ada bedanya dengan alur kehidupan manusia. Sejak dulu kala, bahsa lahir, hidup, dan lenyap dengan masyarakat pemiliknya. Ini wajar-wajar saja. Misalnya dewasa ini, lenyapnya bahasa-bahasa itu amat cepat. Gejala ini, ternyata merupakan salah satu akibat dari apa yang disebut dengan “Peperangan Bahasa”. Sekitar 6.000 bahasa besar di seluruh dunia terancam punah dalam waktu yang tidak terlalu lama. Keanekaan bahasa sebagai bagian dari warisan keanekaan kebudayaan umat manusia, juga terancam punah.
Mungkinkah manusia tanpa kebudayaan, atau kebudayaan tanpa manusia? Kebudayaan adalah produk khas manusia. Ancaman terhadap bahasa adalah ancaman kebudayaan. Ancaman kebudayaan adalah ancaman terhadap manusia. Apakah manusia akan hidup dalam kebudayaan monolingual? Idealkah bila hanya ada satu bahasa universal di dunia, dengan demikian mengabaikan keanekaan bahasa yang telah lama menjadi citra budaya umat manusia sepanjang zaman?

Para ahli bahasa memperkirakan bahwa tidak satu pun bahasa mampu bertahan jika tidak didukung oleh 100 ribu orang pemakainya. Dewasa ini diseluruh dunia setengah dari 6.000 bahasa bahkan lebih, digunakan oleh kurang dari 10 ribu orang pemakainya. Seperempatnya digunakan oleh ratusan juta pemakainya. Punahnya bahasa bukan fenomena baru lagi. Sejak munculnya bermacam-macam bahasa, paling kurang 3000, bahkah lebih hampir setengah juta darinya punah tanpa bekas. Bahasa umumnya bertahan dalam rentang waktu yang relatif singkat, dengan tingkat kepunahan yang semakin tinggi.

Hasil penelitian yang tertuang dalam “6000 Languages: an Embattled Heritage” yang termuat dalam Index April 2000. Yang menjadi pertanyaannya dalah mengapa bahasa-bahasa punah di saat masyarakat penggunanya dijajah oleh suku atau bangsa yang lebih berkuasa dan berpengaruh?. Kolonialisme telah melenyapkan sekurangnya 15 % bahasa yang digunakan saat kolonial itu berlangsung. Lebih dari 300 tahun, Eropa kehilangan banyak sekali bahasa. Di Australia dan Afrika yang tertinggal hanya 200 dari 250 bahasa di akhir abad ke-18. Di Brasilia, sekitar 540 bahasa atau sekitar tiga perempat dari jumlah seluruhnya punah sejak penjajahan portugal tahun 1530. Di Amerika Utara, 200 bahasa Indian-Amerika yang sekarang digunakan di Amerika Serikat dan Kanada berada dalam bahaya kepunahan. Di Asia Tenggara, sekitar 40 dari 600-700 bahasa yang masing-masing digunakan oleh pemakainya banyak ditentukan oleh kebijakan pemerintahnya masing-masing. Di Asia Timur, hanya 6 bahasa dari 47 bahasa yang memiliki peluang bertahan terhadap pengaruh bahasa Rusia, 20 bahasa lainnya hampir punah, 8 bahasa sudah sekarat dan 13 bahasa lainnya dalam keadaan bahaya “kritis”.

Menurut Summer Institute of Linguistics (SIL) dalam Bibang (20043), yang berusaha mempertahankan bahasa-bahasa minoritas, hanyalah 3 % dari 6000 bahasa dunia di Eropa. Padahal setengah dari bahasa-bahasa itu digunakan di kawasan Asia Pasifik, terutama di Pulau Papua (Papua New Guinea dan West Papua/Irian Jaya), yang memiliki seperenam bahasa dunia. Keanekaan bahasa tidak selaras dengan tingkat kepadatan penduduk. 96 % bahasa digunakan oleh hanya 4 % penduduk dunia dan lebih dari 80 % dari bahasa-bahasa itu bersifat endemis, misalnya terikat dengan satu suku, ras atau negara.

Kecenderungan ini membuat para ahli semakin kuat memperkirakan sekitar 95 % dari bahasa-bahasa yang sekarang masih hidup, akan punah dengan sendirinya.Setiap tahun belakangan ini, ada 10 bahasa yang lenyap. Beberapa ahli malah memperkirakan, 50-90 % bahsa yang digunakan dewasa ini akan punah juga di abad ini. Kalau mau mempertahankan sebuah bahasa, maka minimal pemakainya adalah 100.000 orang. Untuk menghindari dari proses peperangan bahasa ini, maka bahasa-bahasa lokal harus dibiarkan tetap hidup dan berkembang sesauai dengan alamnya. Jika tidak, kita turut memberikan andil mempercepat pembunuhan bahasa-bahasa lokal. Itu berarti, membunuh sejarah perdaban dan eksistensi masayarakat pemakainya. Semoga ini menjadi bahan renungan semua orang yang mengerti dan tahu betapa pentingnya bahasa.****

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: