Diburu Sampai Raja Ampat

Lihat itu!’ Suara Tommy Mark yang lantang mengalahkan gemuruh mesin perahu. Tangan kanan pemandu eksplorasi itu menunjuk pulau karang setinggi 2 pohon kelapa. Itulah salah satu pulau di Kepulauan Misool yang termasuk dalam Kabupaten Rajaampat, Papua Barat. Tebing pulau yang curam itu penuh nepenthes berkantong kekuningan yang menjuntai. Ekspedisi ke Pulau Misool memang untuk memburu Nepenthes treubiana yang pernah ditemukan di sana.

Tempat tumbuh nepenthes di pulau karang itu di lereng yang terjal. Tingginya 5 meter dari permukaan air laut. Setelah Buyung, motoris, menambatkan perahu sepanjang 11 meter, Stewart Mc Person, Alfindra Primadhi, dan Argohartono Arie Raharjo dari Trubus, tim eksplorasi, meloncat ke pulau karang. Stewart datang dari negeri yang jauh: Inggris. Warga London itu ‘menggilai’ carnivorous plant (CP) alias tanaman pemangsa serangga. Alumnus geografi Durham University, Inggris, itu terbang ke berbagai negara di 5 benua hanya untuk melihat habitat CP.

Alfindra yang tengah kuliah di Pascasarjana Psikologi Universitas Indonesia juga sama: kesengsem pada CP. Pria 28 tahun itu menelusuri rimba di seantero Indonesia untuk memuaskan hobinya melongok nepenthes di alam. Tiga bulan sebelum eksplorasi bersama, kami saling berkorespondensi. Misool-gugusan pulau yang tampak sebagai 1 pulau di peta-menjadi target eksplorasi lantaran menyimpan entuyut unik. Berbagai literatur atau pustaka internasional seperti The IUCN Red List of Threatened Species dan daftar tanaman karnivora CITES menyebut Misool sebagai habitat Nepenthes treubiana.

Untuk melihat keunikan itu dinding karang didaki. Satu per satu kaki memijak karang runcing yang siap mengoyak kulit. Di bawah rintik gerimis langkah demi langkah tertapak. Dua puluh menit kemudian, sosok nepenthes jelas terlihat. Tutup kantongnya bulat tanpa garis di tengah. Mulut kantong rata tanpa duri. Dari tendril-sambungan sulur dengan kantong-membentang sayap kembar yang memanjang sampai mulut kantong. Kantong atas-upper pitcher-berwarna kuning pucat kehijauan sedangkan kantong bawah alias lower pitcher kuning tua.

Kantong semar dengan ciri seperti itu belum pernah dijumpai di mana pun. Stewart yang pernah menjelajahi Amerika Latin, Filipina, dan Malaysia, hanya mengangkat bahu ketika Trubus bertanya nama spesiesnya. Begitu juga Alfindra, hanya menggelengkan kepala.

Pengamatan untuk mengidentifikasi kantong kera itu memakan waktu hampir 2 jam. Kesimpulannya, kantong semar itu bukan N. treubiana. ‘Kalau mau dilihat perbedaannya ya memang berbeda. Tapi kalau mau dicari kesamaannya juga sama,’ tutur Alfindra mengomentari perbandingannya dengan treubiana. Yang dimaksud Alfin, tutup kantong, sambungan daun ke kantong, bentuk daun, dan bentuk bunga, berbeda dengan treubiana. Namun, ada kesamaan di sayap kantong dan bibir kantong. ‘Saya 80% yakin itu termasuk N. neoguineensis,’ ujar Tommy yang juga pengamat nepenthes.

Maklum, bentuk kantong atasnya sangat mirip neoguineensis varian elongated yang berkantong memanjang. Namun, ciri khas neoguineensis-garis yang membelah penutup menjadi 2 bagian-tidak dijumpai. Kantong yang kuning kehijauan membuat Stewart menduga itu adalah Nepenthes danseri, tapi perbedaan bentuk daun menggugurkan anggapan itu. Yang menakjubkan, anggota famili Nepenthaceae itu tumbuh dekat permukaan air laut. Padahal, ‘Nepenthes bermetabolisme menggunakan air tawar. Ia tidak dapat hidup di air asin,’ papar Stewart.

Alfin menduga ketuyut itu bertahan dari kekeringan dengan air yang disimpan dalam kantongnya. Di pulau-pulau sekitarnya, periuk monyet serupa kembali dijumpai. Sebagian menunjukkan variasi warna kantong dari kemerahan sampai cokelat. Namun bentuk daun yang serupa menunjukkan jenisnya sama dengan nepenthes yang ditemukan sebelumnya. Beberapa tanaman lain batangnya mengering, tapi daun di ujung masih hijau dengan kantong tertutup tanpa air di dalamnya. Dugaan Alfin terbukti; air dalam kantong diserap kembali untuk bertahan dari kekeringan.

Meski itu bukan treubiana, tak ada rasa sesal. Padahal, untuk mencapai lokasi mesti menempuh jalan panjang: Jakarta-Manado-Sorong selama total 8 jam. Dari Sorong-setelah beristirahat semalam-perjalanan berlanjut dengan perahu motor bermesin 160 PK yang tertambat di dermaga. Selain Buyung, Stewart, Alfin, dan Trubus, di kapal berbahan serat kaca itu ada Akbar sebagai ahli mesin dan Ramli Latief, sang kapten, yang mengarahkan haluan ke selatan. Tujuannya: Kepulauan Misool, Kabupaten Rajaampat.

Dengan kecepatan rata-rata 16 km per jam, jarak 104 km ditempuh dalam 6 jam. Semua itu dilakukan demi N. treubiana. Nama spesies itu untuk mengenang Melchior Treub, botanis Belanda yang lahir 156 tahun silam. Dari Misool perjalanan berlanjut ke arah barat ketika hujan mereda. Target berikutnya adalah Pulau Fafanlap, Kecamatan Misool Timur Selatan. Tidak seperti pulau-pulau lain yang dermaganya terbuat dari kayu seadanya, dermaga di sana terbuat dari beton kokoh dan terawat baik.

‘Itu dibuat untuk sandar kapal perintis,’ kata Tommy. Namun, dermaga yang dibuat pada 1999 itu sulit digunakan lantaran laut terlalu dangkal sehingga kapal perintis tidak dapat masuk. Makanya pulau yang mayoritas berpenduduk suku Bugis itu tampak lengang. Lantaran kebanyakan sedang melaut, kaum pria di pulau itu dapat dihitung dengan jari. Selebihnya perempuan dan anak-anak. Kepada merekalah Stewart menunjukkan foto berwarna N. treubiana dalam komputer jinjingnya. Namun, semua menggelengkan kepala. Mereka belum pernah melihat sosok tanaman itu di Fafanlap.

‘Di pulau ini tidak ada. Yang banyak tumbuh di pulau kantongnya kuning, tidak ada yang merah begini,’ kata perempuan setengah baya setelah mengunyah buah pinang yang telah dikupas dengan gigi depannya. Seorang lelaki mendekat, lalu mengamati foto yang disodorkan Alfindra. ‘Saya pernah melihat ini di Tomolol,’ ucapnya. Pulau Tomolol terletak di sebelah barat daya Fafanlap, dapat dicapai dalam 3-4 jam jika ditempuh dengan kapal cepat. Itulah sebabnya perjalanan ditunda keesokan harinya.

Keesokan pagi, setelah sarapan, Buyung mengarahkan kapal ke Tomolol. Beberapa pulau yang dilewati tampak ditumbuhi nepenthes berkantong hijau kuning. Tomolol kampung yang molek. Dermaga kayu menjorok ke laut menyambut siapa pun yang datang. Di tepian pulau tampak rumah panggung berdinding dan berlantai kayu ditopang tiang-tiang setinggi manusia tertancap ke air.

Foto N. treubiana kembali disodorkan kepada penduduk setempat yang tengah duduk di beranda rumah. Melihat kedatangan Trubus, dalam sekejap semua berkerumun. ‘Ini ada di Sulal,’ kata Noah, penduduk setempat. Sulal berada di barat laut, jaraknya seharian dengan kapal cepat. Latief menggelengkan kepala. ‘Kalau ke sana, bahan bakar tidak cukup untuk pulang,’ ujarnya. Mendengar itu, semua terdiam. Perjalanan ke Misool hanya dapat dilakukan dengan kapal cepat-serupa milik Latif yang dipakai Trubus. Biaya sewanya setara harga sebuah motor keluaran teranyar produksi Jepang.

Eksplorasi berakhir? Memanfaatkan sisa waktu- jam baru menunjuk angka 09.50 WIT-akhirnya disepakati mencari periuk monyet di sekitar Pulau Tomolol sekalian kembali ke Sorong. Di luar dugaan, dijumpai beberapa nepenthes kantong kuning yang tengah berbunga. Holim-holim-nama lokal nepenthes di sana-berkantong kuning itu tumbuh di pulau seluas 2 kali lapangan bola yang berjarak 20 menit dari Pulau Tomolol. Dugaan bahwa itu merupakan jenis baru makin kuat setelah melihat perbedaan bunganya dengan N. treubiana.

Dalam monograf Nepenthes of Netherland Indies tulisan Benedictus Hubertus Danser, seorang taksonom Belanda, treubiana termasuk jenis multifloral. Artinya tiap cabang di tangkai bunga betina mengeluarkan 2-4 anak cabang, yang masing-masing menghasilkan putik. Periuk monyet di Misool sangat berbeda; bunganya tunggal alias unifloral. Tiap cabang di tangkai bunga betina langsung berujung putik. ‘Itu saja sudah cukup untuk menyatakannya sebagai spesies baru, meskipun beberapa bagian mirip spesies lain,’ ujar Alfindra.

Moleknya Nepenthes treubiana memang urung ditemukan di Misool dan sekitarnya. Namun, mendapati spesies yang diduga baru sungguh membesarkan hati. ‘Itu luar biasa. Nepenthes itu telah melampaui batas ekstrim jenisnya,’ ucap Stewart. Jika kelak benar itu spesies baru, keluarga Nepenthaceae bakal bertambah 1 spesies. Saat itu genus Nepenthes terdiri atas 105 spesies. (A. Arie Raharjo)

Sumber : Trubus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: