Anindita Siswanto Thayf

Tanah Tabu

Tanah Tabu

Bukan Novel Merah Jambu

Papua. Cukup satu kata itu untuk membuka mata Anindita Siswanto Thayf. Perempuan penulis asal Yogyakarta itu terpana saat membaca tulisan tentang realitas tanah Papua dari Internet. Tanah Papua ternyata tidak hanya sarat dengan keindahan, tapi juga penuh dengan kegetiran hidup masyarakatnya.

Awalnya, Anin hanya ingin mengumpulkan bahan untuk penulisan buku nonfiksi anak-anak tentang keindahan panorama alam Papua. Tapi ia lantas berpikir, buat apa menulis tentang keindahan jika di sebelahnya ada penderitaan yang lebih nyata dan sangat membutuhkan perhatian.

Kehidupan getir itu, oleh Anin diolah menjadi novel realisme satir berjudul Tanah Tabu. Novel ini menjadi satu-satunya pemenang dalam sayembara menulis novel Dewan Kesenian Jakarta.

Anin miris ketika menyadari betapa tidak mudahnya orang Papua mencari rumah kontrakan atau kos di Yogyakarta. Sebab, para pemilik kontrakan dan kos-kosan–juga sebagian besar tetangga–menganggap orang Papua suka bikin keributan, bicara dan memutar musik keras-keras, bertengkar, dan suka mabuk. “Ini membuat saya semakin bersemangat mengais-ngais kisah tentang tanah leluhur mereka, Papua,” tutur Anin.

Tanah Tabu dipilih sebagai judul novel karena Anin beranggapan setiap tanah merupakan warisan leluhur yang ditabukan oleh keturunannya sehingga harus digunakan sesuai dengan manfaat dan kebutuhan, serta kelestariannya harus dijaga.

Berbekal riset pustaka selama dua tahun, Anin mulai menulis novel itu sekitar enam bulan. Tanah Tabu memiliki irama realisme magis ala Anin. Jika ada orang yang membaca novel ini dan ingin mencari pahlawan di dalamnya, dia pasti akan kecewa. Sebab, tidak ada sosok pahlawan dalam Tanah Tabu.

“Kalau ingin menemukan kisah percintaan, romantisme, perselingkuhan, seks dengan segala variasinya, ataupun kutipan-kutipan dari ayat-ayat suci, maka yang ditemukan pasti kekecewaan,” tutur Anin. Penulis yang belum pernah menginjakkan kaki di Papua itu lalu menjelaskan, “Sebab, dalam Tanah Tabu hanya ada seorang bocah kecil, seekor anjing, dan babi.”

Anin awalnya ragu novelnya soal Papua itu bisa diterima oleh penerbit, apalagi diikutkan dalam sayembara. “Karena berdasarkan hasil survei saya, novel pemenang Dewan Kesenian Jakarta selama beberapa tahun terakhir tidak ada yang seperti novel yang akan saya tulis,” katanya.

Di rumah kontrakan sederhana yang bertipe 21 di daerah Sleman, Yogyakarta, Anin menorehkan pikiran pada komputer kesayangannya. Kegiatan Anin menulis layaknya pekerja kantoran. Saat suaminya, Ragil Nugroho, berangkat kerja, ia menghentikan kegiatan rumah tangganya. “Kadang juga lembur, tak beda dengan pekerja kantoran,”ujarnya.

Anin mengaku sering lupa waktu saat asyik menulis. “Suami memahami, bahkan mengingatkan, segera ditulis nanti lupa,” katanya. Ia mengaku seperti mesin diesel, panasnya lambat. Tapi kalau sudah panas, dia ngebut.

Sayangnya, jika suasana hati sedang kacau, Anin jadi alergi menulis. “Untuk mengusir mood yang jelek, paling saya memasak makanan ringan,” ujar Anin yang menyebut sang suami sebagai kritikus utamanya.

Anin tak membantah anggapan bahwa ada beberapa penulis yang sangat mempengaruhi gaya tulisannya, mulai dari Pramoedya Ananta Toer, Gabriel Garcia Marques, Hemingway, Orhan Pamuk, hingga Ben Okri. “Mereka mempengaruhi cara berpikir saya dalam melihat masalah, bagaimana menyampaikannya, dan memberi semangat menulis tentang kebenaran,” katanya.

Anin mulai gemar menulis ketika duduk di sekolah menengah pertama. Ia menulis cerita anak-anak dan dikirim ke media lokal di Makassar. Satu bulan sekali karyanya dimuat di surat kabar itu. “Saya belajar menulis secara otodidak. Tidak ada yang mengajari saya menulis. Ayah saya ahli elektronik, sedangkan ibu saya ibu rumah tangga biasa,” ujar Anin yang kini tengah menyiapkan buku panduan tentang elektronik buat anak-anak. MUH SYAIFULLAH (Yogyakarta)

Biodata

Nama                           : Anindita Siswanto Thayf

Tempat/tanggal lahir   : Makassar, 5 April 1978

Pendidikan                  : Sarjana Elekro, Universitas Hasanuddin, Makassar

Pengalaman Menulis Artikel: Penulis lepas di beberapa media (Astaga.com, Tabloid Nova, Kompas Anak).

Novel:

  • Keajaiban Untuk Ila (Pemenang 1 “Sayembara Menulis Novel Anak Islami 2005” dan nominator “Mizan Award 2006” untuk kategori Cerita Anak dengan Ending Terbaik), penerbit Dar! Mizan, 2005.
  • Tirai Hujan (Pemenang Harapan 2 “Sayembara Menulis Novel Remaja 2006 Tiga Serangkai”), penerbit Tiga Serangkai, 2006.
  • Dunia Pink-Pink (Puspa Swara, 2006).
  • Aku Enggak Mau Mati Jomblo (Papyrus, 2006).
  • Jejak Kala (Pemenang Harapan I “Lomba Penulisan Novel Inspirasi 2008”, penerbit Andi, Yogyakarta).
  • R ‘n B: Love in The Jungle (nominator “Lomba Cerita Konyol Gramedia Pustaka Utama 2008”).

Sumber : Koran Tempo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: