Apresiasi: Sastra dan Batas Makna Kebudayaan

— Yanuar Arifin*

BERBICARA mengenai sastra, dalam benak kita tertancap sebuah entitas kebudayaan yang lahir dari proses kreativitas manusia. Maman S. Mahayan, kritikus sastra Indonesia, mengatakan sastra adalah roh kebudayaan? Ia lahir dari proses yang rumit kegelisahan sastrawan atas kondisi masyarakat dan terjadinya ketegangan atas kebudayaannya.

Sastra sering juga ditempatkan sebagai potret sosial. Ia mengungkapkan kondisi masyarakat pada masa tertentu. Sebagai sebuah karya, sastra tidak hanya menjadi artefak kebudayaan semata.
Lebih dari itu, sastra merupakan karya manusia yang berwujud gagasan yang pada akhirnya turut memengaruhi segala bentuk aktivitas kehidupan manusia. Dari aktivitas religius hingga sosial, karya sastra menjadi sebuah entitas yang menyatu dengan napas kehidupan.

Dalam konteks inilah, karya sastra telah menembus batas-batas kebudayaan. Artinya, dalam setiap penciptaan karya sastra, seluruh unsur yang terkait dengan manusia dan alam, baik unsur material maupun nonmaterial selalu ikut menyertai kelahirannya. Tidak salah apabila karya sastra juga sering kita identikkan sebagai karya manusia yang paling orisinal, private (pribadi) dan transenden.

Misalnya saja, dalam karya sastra yang berbentuk puisi, manusia dapat menangkap dan mengumpulkan realitas kehidupan manusia yang begitu kompleks ke dalam sebuah rangkaian bait-bait yang sangat ringkas. Proses penyusutan yang terjadi menggambarkan efektivitas imajinasi manusia dalam karya sastra terhadap realitas.

Dari beberapa bait puisi yang pendek, manusia dapat memiliki pemahaman yang berbeda-beda dan luas. Sungguhpun demikian adalah sebuah kebohongan apabila karya sastra mendeklarasikan diri sebagai kebudayaan yang menolak keberadaan intervensi dari luar entitasnya. Dalam hal ini, sifat manusia yang berbeda-beda, cenderung mengarah ke sifat egoistik.

Karya sastra tidak terlepaskan dari keberadaan kepentingan. Maka, karya sastra yang dahulunya suci, agung, dan estetis telah ternodai. Ia menjadi sebuah kebudayaan yang kotor.

Ketika realitas yang demikian tengah terjadi, tiada cara bagi karya sastra untuk meretas jalan kebudayaannya. Karya sastra harus mengembalikan makna primordialnya, sebagai representasi akal rasional dan akal budi manusia yang paling transenden.

Ia harus terus tetap mempertahankan diri pada garis wilayah estetis religius. Karya sastra harus terlihat sebagai wujud dari adanya ekspresi spiritual kehidupan manusia. Dengan demikian, entitas karya sastra tetap dapat dipertahankan.

Lalu, bagaimana cara karya sastra mempertahankan diri ketika modernitas melancarkan serangannya? Bukankah modernitas telah merubah sistem, norma, dan nilai dalam kehidupan? Adakah modernitas juga menggeser kedudukan karya sastra sebagai karya yang agung, magnum opus?

Pertanyaan-pertanyaan ini mengantarkan kita pada satu titik temu, akar dari karya sastra itu sendiri, yakni locus penghayatan atas realitas kosmologis dan kosmogonis tertentu. Dari sini, dapat kita tarik benang merah bahwa karya sastra tercipta ketika manusia mau menggunakan akal rasionya serta menjadikan hati nuraninya sebagai alat penimbang dan penentu, apakah ia layak disebut sebagai karya sastra atau tidak.

Meskipun, akal rasio terkadang sangat sering berbenturan dengan hati nurani. Pilihan untuk menggunakan kedua instrumen tersebut adalah sebuah keniscayaan. Hal ini akan berdampak pada karya yang lahir dari rahim makhluk hidup yang bernama “manusia”?

Bukankah pada akal dan hati, di antara manusia dengan makhluk Tuhan lainnya terentang jarak yang begitu luas? Manusia adalah makhluk yang sungguh berbeda dengan hewan, tumbuhan. Meskipun dari kedua makhluk itu dapat kita temukan beberapa unsur yang sama dengan yang ada pada manusia.

Sementara itu, meskipun modernitas turut menggerakkan gerbong-gerbong perubahan dalam berbagai bidang kehidupan, terutama turut mengubah paradigma berfikir manusia, karya sastra akan tetap abadi selama dimensi spiritualitas manusia tetap tumbuh subur. Namun, ketika dimensi tersebut telah mengering, dapat dipastikan bahwa usia karya sastra tidak akan lama lagi.

Artinya, karya sastra akan kehilangan sentuhan estetis religius. Mengapa? Sebab, karya sastra tak dapat berfungsi sebagai penghilang dahaga kerohanian, ia hanya sebagai alat pemuas nafsu semata.

Dalam konteks ini, kita dapat melihat perbedaan yang sangat kentara di antara karya sastra yang telah terkooptasi modernitas dan karya sastra yang tetap bertahan di tengah-tengah gelombang arus perubahan oleh modernitas.

Adalah karya sastra yang lahir dari rahim peradaban Barat yang dikenal sebagai karya sastra modern. Karya sastra golongan ini sangat kental dengan nuansa estetisnya, tapi sangat disayangkan ia tidak mampu menyirami lahan gersang spiritualitas bangsa Barat. Tidak heran apabila kita melihat kehidupan orang-orang Barat teramat kaku.

Sedangkan karya sastra dari peradaban Timur sering dikatakan sebagai karya sastra yang unsur estetis religiositasnya sangat kental. Unsur estetis religiositas inilah yang terkadang memberi kesan utopis?

Terlepas dari itu semua, peradaban Barat dan Timur memang tidak akan pernah bertemu pada satu titik yang sama. Bagaimanapun, peradaban Barat dan Timur adalah entitas peradaban yang harus saling melengkapi.

Dari kedua peradaban besar manusia itu, karya sastra pada awalnya lahir untuk menembus batas perbedaan yang ada. Di mana pun dan kapanpun, karya sastra tetaplah berada dalam ruang kehidupan manusia yang tersendiri dan profan. Ia terlahir guna menembus batas makna kebudayaan.

Tidak ayal, karya sastra telah menjadi wujud ataupun simbol ekspresi dan eksistensi diri manusia yang paling relevan, baik secara fisik maupun spiritual, dalam rangka menjalin komunikasi antara manusia dengan Tuhan dan alam semesta.

Setidaknya dengan pemahaman seperti di atas, kehadiran karya sastra di tengah gagap gempitanya kehidupan modern dan global ini telah membuka jalan yang mem-paralel-kan tradisi kebudayaan masa lampau dengan tradisi kebudayaan kontemporer. Selain itu, keberadaan karya sastra juga diharapkan tetap dapat menjadi oase yang menyejukkan dahaga spiritual kita di tengah derasnya perkembangan sains dan teknologi yang tidak mungkin terbendung lagi.

*) Yanuar Arifin, pemerhati budaya, sosial, politik, dan keagamaan pada Hasyim Asyari Institute Yogyakarta.

Sumber: Lampung Post, Minggu, 30 Maret 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: