Bagaimana Cara Berlatih Menulis

Seseorang mengajukan pertanyaan seperti itu melalui email ke saya. Saya jawab pertanyaan itu, sambil merasa bahwa diri saya seorang pelatih yang mumpuni, bahwa “Anda harus menulis terus”, “Anda harus banyak membaca”, “Anda harus….”

Saya benar-benar banyak lagak dalam menjawab email itu, tanpa mau tahu bahwa kata “harus” biasanya tidak menyenangkan bagi orang yang menerimanya. Padahal, anda tahu, jika kata “harus” itu disampaikan ke saya, saya pasti akan berusaha sampai kelenger untuk menolaknya. Siapa yang mengharuskan saya?

Entah menyenangkan atau tidak jawaban saya itu, sebetulnya saya ingin bilang bahwa keterampilan menulis mestinya juga diasah sebagaimana keterampilan-keterampilan lain diasah. Ia memerlukan disiplin. Ia memerlukan kekeraskepalaan. Dan ia memerlukan sistematika berlatih.

Di waktu kecil, saya seorang pemain badminton kampungan yang selalu bertanding pada turnamen 17-an. Saya pemain hebat di kampung, dengan stamina luar biasa dan kemampuan memukul bola yang baik dan mau mengejar bola ke sudut-sudut mana pun. Bagi sesama kampungan, saya pemain yang sulit ditundukkan.

Di kampung lain ada pemain—kampungan juga, tetapi ia pernah beberapa tahun berlatih di sebuah klub di Semarang. Ia selalu menjadi juara di turnamen 17-an. Saya pernah bertanding melawan dia dan, di akhir pertandingan, dada saya terasa seperti akan rontok, nafas habis, martabat remuk, dan angka yang saya peroleh di tiap set—jika dijumlahkan—adalah 0.

Lawan saya sempurna untuk ukuran kampungan. Smesnya tajam, langkah kakinya ciamik, tubuhnya lentur, tangannya bisa menjangkau bola di sudut mana pun, pengembalian bolanya yahud, dan ia tidak kelihatan lelah sama sekali. Ia menguasai segala teknik yang dibutuhkan untuk memenangi pertarungan. Ia mendapatkan teknik-teknik itu di klub tempat ia berlatih dulu. Teknik melakukan smes, ia paham. Teknik mengayunkan langkah, ia menguasai. Teknik mengecoh lawan, ia tahu. Teknik menguras tenaga lawan, ia mafhum. Teknik mempermalukan lawan, ia mengerti.

Pengembalian bolanya sungguh membuat saya gedandapan dan ia membuat saya menjadi badut di lapangan. Orang-orang yang menonton di tepi lapangan tertawa-tawa menikmati kesengsaraan saya. O, semoga Tuhan yang mahaadil menghukum seadil-adilnya gelak tawa mereka di atas penderitaan orang lain.

Mengambil pengalaman itu sebagai contoh, saya membayangkan bahwa seorang penulis pun kira-kira juga memerlukan penguasaan teknik sebagaimana pemain badminton harus menguasi seluruh teknik: melakukan smes, mengayunkan langkah kaki, mengembalikan bola ke sudut-sudut yang merepotkan lawan, memperkuat pergelangan tangan, dan sebagainya. Jika anda berlatih badminton, pelatih anda tidak akan bilang, “Badmintonlah terus!” Saya dulu hampir setiap hari bermain badminton dan hanya mendapatkan angka 0 melawan orang yang menguasai teknik.

Jadi rasanya kita harus mulai curiga bahwa latihan menulis mungkin bukan sekadar: “Menulislah terus! Menulislah setiap hari! Menulislah tanpa kenal lelah!” Di lapangan badminton, cara seperti itu hanya melahirkan pemain badminton kampungan seperti saya, yang segera keok oleh lawan yang pernah mencicipi latihan di klub.

Untuk menulis dengan baik, kita memang tentu saja harus berlatih rutin. Tetapi saya menyarankan berlatihlah seperti pemain badminton. Pada waktu-waktu tertentu anda mungkin hanya berlatih untuk membuat metafora, sampai anda menemukan kekuatan metafora dalam tulisan anda. Temukan juga metafora-metafora yang ditulis secara memikat oleh penulis-penulis lain. Pemain badminton juga memiliki waktu tersendiri untuk berlatih smes. Dan ia juga rajin mengamati dan mempelajari cara pemain lain menghunjamkan smes.

Pada lain hari, anda mungkin perlu belajar membuat deskripsi. Cobalah membuat deskripsi saja sampai deskripsi anda benar-benar kuat. Pelajari bagaimana penulis-penulis yang baik membuat deskripsi yang hidup dan tidak membosankan. Mungkin ini sama dengan pemain badminton yang sedang berlatih mengayunkan langkah atau melakukan reli panjang.

Di saat lain lagi, anda perlu juga belajar membuat dialog yang menarik. Pelajari dialog-dialog yang cerdas, catat di mana daya tarik dialog yang dibikin oleh penulis lain, catat juga jika ada kelemahan dalam dialog tersebut menurut anda. Tulis dialog anda sendiri—bisa saja anda iseng-iseng menulis dialog antara Napoleon Bonaparte dengan Pangeran Diponegoro. Apa kira-kira yang akan mereka percakapkan jika keduanya bertemu?

Tentu masih ada banyak hal teknis yang masing-masing harus kita perkuat: latihan menciptakan konflik, latihan mendeskripsikan karakter, latihan membuat adegan, latihan menulis dengan tatabahasa yang benar. Dan sebagainya.

Jadi, jika anda sudah berlatih setiap hari dan frustrasi karena merasa tidak maju-maju, ada baiknya anda berlatih dengan tujuan-tujuan khusus seperti itu. Pada saatnya anda tak akan kesulitan dalam soal-soal teknis dan keterampilan menulis anda mudah-mudahan akan meningkat. Jika saat itu tiba, silakan berkompetisi.

Sumber : Berbagi AS Laksana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: