Pendidikan dan Manusia

Oleh: Septinus L. Timang

Pemerhati Masalah Sosial Politik *)

TIDAK dapat disangkal bahwa pendidikan merupakan hal terpenting dalam memanusiakan manusia. Lewat pendidikan seseorang dapat menata hidup yang lebih baik. Jelas bahwa pendidikan mempunyai peran yang sangat besar dalam mempersiapkan setiap individu dalam masyarakatnya yaitu dengan memberikan bekal ilmu, ketrampilan, wawasan dan sikap.

Keberhasilan pendidikan pada setiap individu antara lain tercermin dari perilaku individu tersebut dalam bersosialisasi dengan masyarakat. Sikap kritis dan kreatif seseorang, secara langsung maupun tidak langsung dipengaruhi dari pengalaman selama yang bersangkutan mengikuti pendidikan di sekolah maupun di rumah (lingkungan).

Sikap pasif seseorang tidak hanya tergantung pada sifat bawaannya, tetapi juga terbentuk dari pengalaman selama yang bersangkutan belajar.

Guna memahami proses pendidikan manusia  secara mendalam ada baiknya kita tinjau dari pemikiran-pemikiran Filsafat Pendidikan yang dilahirkan oleh pemikir-pemikir filsafat klasik seperti : Aristoteles, John Locke, Augustinus, adalah filsafat tentang proses pendidikan sebagai bagian dari system filsafat mereka dalam konteks teori-teori etika, politik, epistemology dan metafisika yang mereka anut. Namun yang kini sedang di kembangkan adalah filsafat analitik yang menghubungkan berbagai disiplin ilmu seperti : Sejarah Pendidikan, Psikoligi Pendidikan dan Sosiologi Pendidikan.

Ada beberapa aliran filsafat pendidikan yang berpengaruh sampai saat ini dimana akan dibicarakan secara singkat sebagai berikut adalah :

Filsafat Analitik, yang menganalisis serta menguraikan istilah-istilah dan konsep-konsep pendidikan seperti pengajaran (teaching), kemampuan (ability),pendidikan (educations) dan sebagainya, serta mengecam dan mengklarifikasi berbagai slogan pendidikan seperti : “Ajarilah anak-anak dan bukan mata pelajaran” (teach children,not subjects). Jadi alat-alat yang digunakan dalam filsafat analitik adalah logika dan linguistik serta teknik-teknik analisis.

Filsafat Progresivisme, Tokoh dalam pemikiran ini adalah John Dawey. Dalam teori ini beliau berpendapat bahwa pendidikan bukan sekedar mentransfer pengetahuan kepada anak,melainkan kemampuan dan keterampilan berpikir dengan memberikan rangsangan yang tepat. Aliran ini juga menyatakan bahwa sekolah adalah institusi sosial dan pendidikan sendiri adalah proses sosial. Sehingga pendidikan adalah proses kehidupan (process of living),bukan persiapan untuk massa depan. Pendidikan adalah proses kehidupan sendiri dan mandiri,maka kebutuhan individual anak didik harus lebih diutamakan, bukan subject-oriented.

Filsafat Eksistensialisme, dalam pemikiran ini menyatakan bahwa yang menjadi tujuan utama pendidikan bukan agar anak didik dibantu mempelajari bagaimana menanggulangi masalah-masalah eksistensial mereka,melainkan agar dapat mengalami secara penuh eksisitensi mereka. Para pendidikan eksitensialis akan mengukur hasil pendidikan bukan semata-mata pada apa yang telah dipelajari dan diketahui oleh peserta didik, tetapi yang lebih penting ialah apa yang mampu mereka ketahui dan alami, Para pendidik eksitensialis menolak pendidikan dengan sisitem indoktrinasi.

Filsafat Rekontruksionalisme,Dalam pemikiran ini para pendidik rekontruksionalis melihat bahwa pendidikan dan reformasi sosial itu sesungguhnya sama. Mereka memandang kurikulum sebagai “problem centered”. Pendidikan pun harus menjawab pertanyaan George S. Count : “Beranikah sekolah-sekolah membangun suatu orde sosial yang baru?”.

Jelas masih banyak pandangan yang berbeda-beda dalam memahami konteks filsafat pendidikan. Namun pandangan filsafat pendidikan diatas lebih menekankan pada disiplin ilmu pendidikan yang bersifat metadisipliner,dalam arti bersangkut paut dengan konsep-konsep,ide-ide serta metode-metode dalam disiplin ilmu dalam dunia pendidikan.

Pendidikan mempunyai tujuan untuk membantu generasi muda menjadi manusia haruslah menyangkut semua segi kehidupan manusia. Itu berarti bahwa segi kehidupan seperti spritualistas,moralitas, sosialitas,rasa dan rasionalitas,semuanya perlu mendapatkan porsi dalam proses pendidikan generasi muda. Maka pendidikan bukan hanya menekankan segi pengetahuan saja (kognitif),tetapi juga harus menekankan segi emosi,rohani,hidup bersama,dan lain-lain. Jadi pendidikan yang hanya menekankan pada pengetahuan nilai tidak akan membentuk peserta didik secara utuh.

Pendidikan juga  mempunyai peran untuk membantu peserta didik masuk ke dalam masyarakat dan ikut terlibat secara proaktif didalam masyarakat secara bertanggung jawab. Dalam artianya bahwa pendidikan juga perlu membantu peserta didik,mengenal masyarakatnya,peka terhadap situasi masyarakatnya,aktif ikut berpikir,dan bertanggung jawab secara moral maupun sosial terhadap perkembangan masyrakatnya.

Menurut filsafat klasik,pengetahuan itu sudah ada dan sudah jadi. Tugas guru adalah mentransfer pengetahuan itu kedalam otak anak didik,sehingga anak didik menjadi tahu. Namun menurut filsafat konstruktivisme yang berbeda dengan filsafat klasik bahawa,pengetahuan itu adalah bentukan (konstruksi) siswa sendiri yang sedang belajar. Dalam artianya bahwa pengetahuan peserta didik tersebut terbentuk secara pribadi (personal) yang dimana peserta didik sendiri yang membentuknya. Pemikiran ini muncul dari pendapat Piaget. Berbeda dengan Piaget,Vygotsky mengatakan bahwa pengetahuan anak dibentuk dengan kerjasama dengan teman lain. Dimana tugas guru (dalam aliran filsafat konstruktivisme) hanya sebagi fasilitor dan mediator dalam proses belajar peserta didik.
Pendidikan hendaknya juga disesuaikan dengan perkembangan anak  (baca : psikologi anak). Artinya bahwa dalam massa-massa tahap perkembangan peserta didik, dia selalu mengalami proses pembentukan psikologi dari tahap ke tahap,sehingga setiap psikologi pribadi peserta didik tidak akan selalu sama. Sehingga tidak seharusnya peserta didik dari 3-7 tahun dihadapkan kepada pelajaran yang serba keras, matematika misalnya. Karena hal ini akan mempengaruhi pola pikir mereka, yang seharusnya masih dalam usia bermain dihadapkan pada proses pendidikan yang serba berat sehingga pada tahap mereka masuk dalam proses pendidikan menenggah dan atas mereka  muda cepat bosan serta tidak mau berlama-lama di dalam kelas.

Di Negeri Belanda misalnya peserta didik di berikan metode pelajaran menulis sambil mendengari musik pada saat mereka memasuki SD kelas 1 dan itu disesuaikan dengan perkembangan usia mereka. Ini berbeda dengan Indonesia dimana peserta didik diajarkan penulis serta matematika (tampa musik)  pada saat mereka masih TK. Sehingga peserta didik yang masih usia main dipakasakan untuk mengerti matematika dan belajar membaca. Namun apa yang terjadi  dengan peserta didik yang di bebani dengan materi pembelajaran dan tugas-tugas yang tidak sesuai dengan perkembangan usianya ?. Seperti di ibaratkan oleh Dr. Paul Suparno,SJ. Bahwa mereka seperti motor yang pada saat inrijden di kendarai dengan kecepatan tinggi,di bebani dengan 3 (tiga) orang dewasa berboncengan,di pacu dijalan- jalan yang berbatu-batuan dan menanjak tinggi. Apa yang akan terjadi kemudian Mesin akan rontok sebelum saatnya!. M.A.W. Brouwer menyebutkan bahwa sebuah tindakan yang “membunuh anak secara cepat”.

Sehingga sekali lagi bahwa untuk mendidik seorang peserta didik harus sesuai dengan kemampuan  dan perkembangan mereka. Seperti anak yang suka bernyanyi tidak seharusnya memaksakan dia masuk dalam kelompok sepak bola karena mereka tidak mempunyai kemampuan untuk itu,mereka harus melalui proses kematangan psikologis yang baik untuk beralih ke profesi mereka.

Pendidikan pada umumnya  mengupayakan peserta didik untuk dapat memiliki kecerdasan dan pengetahuan yang memadai (intelektual); dapat memahami, menghayati,serta mewujutkan nilai-nilai yang luhur secara bijaksana (nilai kemanusiaan); dapat hidup bermasyarakat secara sehat (sosial),serta dapat nemukan dan memuliakan Tuhan (kehidupan rohani dan spiritual) Pendidikan hendaknya tidak hanya menekankan pada aspek intelektualitas saja,melainkan juga aspek emosional dan aspek spiritual (religi) peserta didik. Ketiga-tiganya harus mendapatkan porsi yang sama dalam proses pendidikan peserta didik. Namun kecerdasan spiritual merupakan pusat yang paling mendasar diantara kecerdasan yang lainnya,karena dia menjadi sumber bimbingan atau arah pengarahan bagi tiga kecerdasan lainnya. Kecerdasan spiritual mewakili kerinduan manusia akan makna dan hubungan dengan yang tak terbatas. Kecerdasan spiritual juga membantu peserta didik mencerna dan memahami prinsip-prinsip sejati yang merupakan bagian dari nurani manusia.

Matinya Pendidikan Indonesia

Potret buram pendidikan di Negara Indonesia pada saat ini memang sangat ironis. Pendidikan saat ini tidak menunnjukan itikat baik dalam menyelamatkan manusia yang ada di bumi Indonesia. Yang jelas bahwa pada era-70 sampai 80-an kita masih lihat para mahasisiwa dari Negara tetangga seperti Malaysia dan Singgapura mengirim para mahaisiswanya untuk belajar kedokteran di Universitas-universitas ternama di Indonesia,sampai-samapai Negara sakura-Jepang rela membentuk tim sepakbola untuk mempelajari system kopentensi PSSI yang dilakukan Indonesia pada era 90-an. Kini system pendidikan di Indonesia paling terpuruk di kawasan Asia. Penelitian hasil survey yang dilakukan oleh Political and Economic Risk Consultancy (PERC) yang berkedudukan di Hongkong. Dari 12 Negara yang disurvei oleh lembaga tersebut menyebutkan bahwa Korea Selatan memiliki system pendidikan terbaik, disusul Singapura, Jepang, Taiwan, India, Cina dan Malaysia. Indonesia sendiri menduduki urutan ke 12 dibawah Vietnam. Jelas bahwa kondisi pendidikan di Indonesia  saat ini tidak seperti pada era 70 hingga 80-an yang selalu di bangga-banggakan oleh Pemerintah kita.

Hal yang menjadi keprihatinan bersama adalah bahwa system pendidikan di Indonesia saat ini hanya pengejar standar kualifikasi siswa tampa mempertimbangan aspek psikologis pendidikan ,kondisi fisik lembaga pendidikan dan sosiologi pendidikan itu sendiri. Runtuhnya bangunan-bangunan sekolah yang menjadi symbol pendidikan untuk menjaga rasa kenyamanan dan ketentraman siswa belajar untuk mengais cita-cita bangsa ternyata menjadi monster yang menakutkan bagi siswa untuk belajar dengan aman dan nyaman didalam kelas. Kita masih teringat apa yang dialami oleh siswa SD Pasundan III-Bandung yang sedang belajar dan tertimpah atap bangunan sekolah. Tidak hanya itu, kini pemerintah hanya membuat aturan kualifikasi pendidikan yang hanya pengejer standar kopentensi tampa memperhatikan dampak dari aspek psikologis dan sosiologis pendidikan  kedaerahan siswa itu sendiri. Hadirnya UN (Ujian Nasional) yang hanya mengejar standar kopetensi sisiwa telah menjadi bahan perdepatan yang panjang, pendidikan yang seharusnya memanusiakan manusia  kini terbalik ,dimana sisitem pendidikan kita hanya mengejar standar nilai tampa melihat kondisi rill yang dialami oleh system pendidikan kita. Yang dimana model pendidikan di Indonesia justru membangun “kuburan demokrasi”  karena memang pendidikan kita kini telah kehilangan spirit demokrasi.

Hari Pendidikan Nasioanl yang setiap tahun jatuh pada tanggal 2 Mei merupakan moment bersejarah bagi bangsa Indonesia. Saat mendirikan National Onderwijs Instituut Taman Siswa,pada tahun 1922,Ki Hadjar Dewantara menginginkan agar proses pendidikan disekolah menjadi taman, tempat mekarnya bungga-bungga bangsa, tempat memupuknya semangat nasionalisme, serta memacu kerja keras dan pantang menyerah, dengan dasar kasih sayang. Namun pelaksanaan Hardiknas dalam 5 tahun terakhir ini menjadi rasa keprihatinan sebagian besar penduduk Indonesia terhadap prospek pendidikan nasional.

Kenyataannya dunia pendidikan nasional kita dari hari ke hari mengalami stagnasi. Harapan untuk membentuk sebuah dunia pendidikan yang lebih baik dan lebih maju hanya terbentur dan terdegar sangat merdu dalam retorika pidato para pejabat di negeri ini. Harapan agar dunia pendidikan yang berkualitas selalu mencuat. Namun itu semua berhenti diruang diskusi dan hanya sebatas wacana tampa satu tindakan yang kongrit.

Kegagalan pemerintah dalam mensejahterakan guru merupakan persoalan subtansial. Guru yang seharusnya mendapatkan tempat yang terhormat saat ini tidak akan gembira dengan fasilitas kesejaterahan yang mereka miliki. Kita dapat telusuri di Tasikmalaya sebagai contoh bahwa para guru tenaga bantu (honorer) terpaksa harus ngutang untuk menghidupi keluarganya dengan gaji honorer yang Rp 50.000 sampai Rp 100.000 perbulan. Ini jelas jahu dari upah menimun regional atau propinsi. Keadaan ini yang memaksan guru honorer harus rela sampai-sampai tidak menyekolahkan anaknya. Dengan beban yang semakin sulit pemerintah malah menuntut guru (honorer) untuk mengejar standar kopetensi mereka.

Persoalan pendidikan hendaknya perlu di benahi dari semua aspek kehidupan yang berhubungan dengan dunia pendidikan di Indoensia. Partisipasi pemikiran serta financial dari semua pihak sangat diharapkan guna menyelamatkan dunia pendidikan kita.

Pendidikan di Papua

Jalan mundurnya pendidikan di Papua seiring dengan maju mundurnya perjalanan pendidikan nasional. Pendidikan di Papua sangat memprihatinkan. Hal ini dilihat dari standar kualifikasi pendidikan di Papua seperti kualitas tanaga pengajar,fasilitas dan sarana pendidikan,kurikulum, kesejahteraan guru,gizi peserta didik dan lain-lain,tidak menunjukan perubahan yang berarti dalam proses pendidikan di Papua. Otonomi khusus yang sudah mau mencapai 8 tahun tidak menunjukan angka yang signifikan. Apalagi pendidikan menjadi program prioritas yang digembar-gemborkan dalam semangat Otonomi Khsusus  selama ini. Yang sangat para lagi bahwa standar mutu peserta didik dari Papua terutama dari daerah yang terisolir (terutama yang dari Pegunungan Tengah Papua) ternyata yang mau melajutkan ke pendidikan menenggah dan perguruan tinggi ternyata tidak tahu membaca dan menulis (Pengakuan Rektor Universitas Cenderawasih). Ini merupakan aib yang tidak terjadi dalam sejarah kolonialis Belanda.

Kini di Papua untuk menjadi guru dilihat dari “kondisi” bukan sebagai “panggilan”. Jadi mau melihat guru saat ini yang betul-betul mau mengabdi sangat sulit. Hal ini bisa dilihat  bagi para guru masa sekarang hanya menghabiskan waktunya di perkotaan tampa melihat tenggung jawab sosialnya  sebagai tenaga pendidik. Berbeda dengan guru era 60-an hingga 80-an yang telah memberikan sebuah kontribusih yang nyatah dalam proses pendidikan di Papua. Pertanyaannya bahwa inikah cara kita mendidik calon pemimpin? Propinsi Papua saat di keluarkannya UU No.21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Papua. Belum adanya penataan pendidikan kurikulum di Papua disesuaikan dengan kondisi sosial dan budaya orang Papua, tapi anehnya Papua masih mengunakan kurikulum yang diatur oleh Pemerintahan Pusat dengan memakai standar kurikulum nasional. Pada hal Papua ada mempunyai UU Otsus. Lalu bagaimana dengan para siswa yang menghadapi  UN (ujian nasional) dikampung-kampung?. Mereka akan dipaksakan untuk lulus,tampa mempertimbangkan aspek kognitif dan psikomotorik dari pengetahuan mereka, karena masih memakai kurikukum tahun 1994.

Jelas bahwa untuk memajukan dunia pendidikan Papua perlu mengeluarkan semua potensi daerah secara positif yang di miliki. Dana Otsus yang yang mencapai Rp 28 Trilyun bisa mensejahterakan 3 Juta penduduk Papua dalam sekejab mata. Kalau system pengelolahan dan manfaat dari dana tersebut di gunakan secara baik dan bijak. Tampa ada kebocoran baru yang terselubung.

Memanusiakan manusia lewat pendidikan memang bukan pekerjaan yang mudah atau hanya sekedar membalik telapak tangan dan langsung jadi. Karena membangun sebuah manusia tidak akan sama dengan membangun sebuah rumah.  Membangun manusia butuh keseriusan semua komponen bangsa yang ada di negeri ini. Sikap “baku harap” bukan solusinya untuk mengatasi persoalan pendidikan di Indonesia (Baca; Papua). Apalagi dengan memasuki sebuah dunia yang semakin hari terus berubah tanggung jawab pemerintah serta semua komponen bangsa sangat diharapkan untuk menyelematkan dunia pendidikan kita. Karena hanya lewat pendidikanlah manusia dapat hidup ekslusif, dapat membantu setiap manusia menjadi sesama,sahabat,yang dapat bekerja sama membangun dunia yang lebih damai dan lebih maju. Semoga Saja !

*) Penulis Adalah AlumniJournalism and Mass Communication Directions In National Building of University.

Tinggal di SP II Timika – Papua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: