INDONESIA BUBAR

Oleh : Hugo Warami *)

Judul Buku        : Indonesia Bubar

Penulis             : Susilo  B.N.

Penerbit            : Pinus Book Publisher

ISBN/KTD         : 978-99009-7-2

Cetakan            : Pertama

Tahun               : 2007/2008

Halaman           : XXVIII + 280

INDONESIA BUBAR  merupakan hasil buah pikir  dari seorang anak bangsa yang nasionalis memiliki reputasi terbaik dan prihatin dengan kondisi bangsa saat ini. Di tengah keadaan negeri yang sedang kacau balau, Tuhan hendak mencari seorang. Dia tertegun karena tidak ada seorang pun yang tampil untuk membela segala bentuk ketidakadilan dan bisa membuat sejarah dalam generasinya.  Buku ini menyajikan perpaduan nilai-nilai nasionalisme yang patut dihargai dan mampu menjadikan generasi yang akan datang merasa menjadi SATU BANGSA, SATU TANAH AIR dan SATU BAHASA.

Bangsa Indonesia saat ini sarat dengan pendindasan, orang-orang yang sudah sengsara ditekan luar biasa sehingga semakin sengsara.  Bangsa ini tengah berada dalam kubangan lumpur korupsi, kolusi dan nepotisme yang tidak pernah akan berakhir atau tak ada ujung pangkalnya. Masa depan yang dipercayakan bagi pemimpin-pemimpin nusantara ini yang seharusnya menjadi barometer pegangan kehidupan justru menjadi algojo dan pemerah sapi.

Dalam pandangan Indonesia Bubar, bahwa di tahun 2019 Negara Indonesia akan menjadi sebuah Dongeng atau Legenda  dari sebuah bangsa yang pernah ada, bangsa yang sering merangkai Wawasan Nuasantara, Berlabelkan Bhineka Tunggal Ika. Indonesia Bubar dalam bingkai globalisasi 2019 akhirnya akan menjadi kisah heroik, ihwal keberhasilan berita tentang mereka yang sukses dan menang pada perjuangan-perjuangan memisahkan diri dari negara kesatuan. Lantas, bagaimana nasib mereka suku bangsa dan sub suku bangsa yang terisisih dari hiruk pikuk globalisasi Negara Kesatuan, serta tersingkir dari gebyar Nasionalisme yang gagap persatuan dan kesatuan.

Krisis multidimensional yang memicu bangkitnya kesadaran dan fanatisme daerah yang berujung pada pemisahan diri dari negara kesatuan seolah-olah merupakan benang kusut yang membuat seluruh sendi-sendi bangsa ini menjadi stagnan, bahkan berantakan dan amburadul. Di zaman ini, ”pembangunan” di segala bidang dengan hutang berlebihan. Orang bersafari berkeliling meneriakkan berualang-ulang keberagaman etnik yang semu sampai yang mendengarnya terasa bosan.

Daerah-daerah merasa diseparasikan dan diasingkan. Lapisan bahwah merasa dikorbankan. Solidaritas dan keadilan terinjak-injak. Hak-hak minoritas terjepit dan elite minoritas berpesta pora disekitarnya. Pendidikan hampir total terbengkalai dan moral mengalami dekadensi. Agamawan dan cendekiawan beramai-ramai meninggalkan tugas pokoknya dan larut dalam kenduri politik dan ekonomi.

Nurani setiap anak bangsa sudah biasa tegar menyaksikan penggusuran tanah kaum yang terpinggirkan, pungutan dari rakyat kecil. Sanubari setiap anak manusia tidak lagi tergugah melihat rakyat jelata harus hidup menopang hutang-hutang konglomerat. Banyak pungutan dari mana-mana sebagai sedekah untuk sebuah kebijakan, panti asuhan, dan kegiatan amal yang tak sampai sasarannya. Segala hal dipalsukan dengan cermat: nilai dari uang kertas, ijazah, surat keputusan eksekutif dan judikatif, passport, ujian nasional, akta tanah, tanda pangkat dan merek dagang,  bahkan surat kawin. Sumber yang menyangkut hidup rakyat banyak juga dimanipulasi, seperti hutan, minyak dan gas, emas, dan tembaga, batubara dan timah, listrik dan air minum. Hidup jujur di nusantara ini menjadi sulit, dan hidup layak hanya mungkin bagi elite dengan penghasilan menurut skala internasional. Rakyat Indonesia tertekan dari kemiskinan (property) ke kemelaratan (destitute).

Anak-anak dan perempuan Indonesia menjadi makanan empuk eksploitasi. Pederasti dan sodomi, eksport pembantu rumah tangga dan tenaga kasar murah menjadi komoditas dengan keuntungan komparatif. Demoburuh, protes ibu peduli dan konggres anak-anak, bahkan seminar anak-anak pun tidak mengubah keadaan, kebaktian rohani dan puasa massal tidak mempan dan mangkus.

Tanah air Indonesia yang berporos pada negara kesatuan ini sudah merupakan negeri yang penuh keberingasan. Mulut sudah penuh dengan madu, namun hati penuh dengan empedu. Pergulatan antara kebijakan dan kejahatan masih akan terus menguntungkan, tetapi tidak boleh kehilangan kebaikan sebagai manusia. Inikah sebuah negara yang merdeka setengah abad lebih? Ataukah hanya negara kesatuan yang semu? Atau hanya sebuah Republik Mimpi.

*) staf Pengajar UNIPA

Posted in BUKU. 1 Comment »

One Response to “INDONESIA BUBAR”

  1. octho Says:

    semoga jadi dan akan pasti jadi kenyataan….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: