PR dan Fifi Aleyda

Oleh: Salomo Simanungkalit

BAHASA Inggris Fifi Aleyda Yahya amatlah bagus. Tentu saja! Bukankah dia pembawa acara dan pembaca berita Metro TV? Siapa pun tahu bahasa Inggris merupakan bahasa utama televisi berita itu. Tajuk acaranya hampir-hampir semua dalam Inggris. Itu buktinya.

Entah karena sang pemilik mencadangkan diri jadi presiden sehingga berlagak nasionalis semusim, dalam musim pemilu ini beberapa tajuk acara di sana berbau Indonesia. Suara Anda, misalnya, ditayangkan saban pukul tujuh petang. Salah satu pemandunya, ya Fifi itu.

Topik Rabu 14 April lalu berkisar tentang calon presiden. Narasumbernya R William Liddle dari Universitas Negara Bagian Ohio dan Saiful Mujani dari Lembaga Survei Indonesia. Nama-nama yang dibahas: Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono. Tak disebut-sebut Surya Paloh, apalagi Wiranto. Berhubung dua besar dalam survei yang ditunaikan LSI adalah Megawati dan SBY, sebandung ini lebih kerap ditimpalkan dalam bahasan mereka.

Mengapa Megawati kalah populer dari SBY? “Apakah karena kurang pi-ar?” kata Fifi. “Mungkin salah satu sebab, tapi pi-ar bukan satu-satunya,” sahut Liddle. Pi-ar yang mereka maksud adalah public relations.

Hanya sekali itu Liddle melafaz pi-ar. Selanjutnya, terkesan secara sadar melakukannya, dia menyebut pe-er. Sebaliknya Fifi berdeging dengan pi-ar sampai bincang-bincang itu tuntas. Inilah inersia yang menakjubkan dari seorang Indonesia, lembam terhadap hal-hal bergincu.

Di rumah, di depan televisi, saya tersenyum. Beberapa hari sebelumnya di Pematangsiantar, Liddle, Hotnida br Hutagalung, dan saya bercakap-cakap mengenai gejala bahasa belang-bonteng di kalangan terpelajar Indonesia. Hotnida adalah guru bahasa yang pernah belajar di Sorbonne.

Terpajan dengan orang Perancis yang sangat berbesar hati dengan bahasanya, pada Hotnida tumbuh sikap bangga menggunakan bahasa Indonesia. Ia risau akan kekurangan daya gali pemakai bahasa Indonesia menemukan padan bagi istilah komputer dan ekonomi-yang meruyak dalam bahasa Inggris-dari khazanah nusantara. Berbeda dengan Perancis yang lantip bertahan dengan SIDA, meski seluruh dunia memungut AIDS untuk sindrom yang belum tersembuhkan itu.

Sebenarnya ada usaha orang per orang. Sudjoko dari Bandung, misalnya, memadankan download dengan menanam, loudspeaker dengan pelantam. Mendengar itu, Liddle langsung bereaksi. Dia senang karena selama ini terganggu membaca di koran-koran kata-kata seperti ini: men-download, mem-forward. Sebagai pengamat politik Indonesia yang sering menulis kolom atau artikel di koran dan majalah Indonesia dalam 25 tahun terakhir, ia tak menggabungkan imbuhan yang tulen Indonesia dengan kata-kata yang masih asli Inggris.

Percakapan seputar bahasa belang-bonteng kami lanjutkan dengan ketidakajekan kebanyakan orang Indonesia melafalkan singkatan yang berasal dari bahasa Inggris. Seperti yang disinggung André Möller dalam rubrik ini: HP (handphone) dilafaz ha-pe, bukan eich-pi, tapi DVD dilafaz di-vi-di, bukan de-ve-de. Orang Indonesia, kata Hotnida, tidak perlu merasa kampungan kalau melafalkan DVD sebagai de-ve-de atau W sebagai we pada George W Bush.

Cakapan itulah yang langsung mendengung di kuping saya ketika Liddle berkali-kali menyebut pe-er, bukan pi-ar, untuk singkatan dua kata Inggris yang bermakna ’hubungan masyarakat’ itu. Indonesianis asal Amerika ini menangkap semangat bicara kami.

Mengapa Liddle bisa dan mau, tapi kaum terpelajar Indonesia pada umumnya tak bisa dan tak mau?

Saya pikir Liddle dan ilmuwan asing yang mendalami Indonesia berkutat dengan isi, sementara kaum terpelajar Indonesia bersolek dengan bungkus. Mereka berpikir seluruh, sedangkan kita berpikir separuh. Jadilah kita manusia separuh, hanya berperan sebagai bungkus-bungkus, dan itu sudah dimulai sejak di pikiran, ketika kita berbahasa.

Dari bungkus ke isi, dari separuh ke seluruh. Inilah pe-er besar buat kaum terpelajar Indonesia. Maksud saya: Pekerjaan Rumah.

Sumber : Kompas.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: